Selasa, Desember 11, 2007

SYAIR CINTA SEORANG LELAKI TUA PADA USIA TUJUH PULUH LIMA


Buat TS
 


/
Budiman S. Hartoyo
 


Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita berbincang tentang anak-anak nun jauh di seberang, tentang cucu-cucu yang lucu tak lagi terbilang. Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita bercanda tentang encok di pelosok tubuh, lalu saling memijat lembut melupakan cekcok seharian penuh
 


Hari-hari terasa syahdu ketika kudengar engkau senandungkan baris-baris surah Ar-Rahman tentang nikmat Allah tak berkesudahan. Hari-hari terasa syahdu ketika kuputar CD murattal ayat-ayat sakral qiraah Syaikh Sudais yang kadang tersedu dalam tangis tertahan
 


Cumbu rayu kita ialah ketika saling membangunkan di sepertiga malam, berbimbingan tangan mengambil air wudhu, bergegas shalat malam 11 raka'at. Syahwat asmara kita ialah ketika khusyuk berzikir bersama, sambil menahan kantuk menunggu adzan Shubuh, berdecap-decap membaca wirid hingga penat
 


Rasanya waktu begitu akrab setiap kali alarm jam weker kumuh berdering nyaring mengingatkan waktu menjelang shalat. Rasanya hari-hari begitu singkat setiap kali kita menyobek lembaran kalender lusuh, tanggal-tanggal semakin dekat

 

Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi tetek-bengek duniawi menggelayuti pundak kita yang renta. Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi komputer, segelas susu, selaci surat-surat anak, juga buku atau renda
 


Rasanya sempurna sudah cinta kita, siap pulang kembali ke pangkuan arasy Kekasih Azza wa Jalla. Hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika ruh kita saling bercinta; hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika kita .....
 


Jakarta, Januari/Oktober 2005.
Posted by BSH at 08:01:11 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Desember 06, 2007

HARI INI, 60 TAHUN SILAM

(Mengenang Sersan Major Moehammad Arwani dan Kopral Moeljadi Thohir, Lasykar Hizbullah, 1945).


 

Hari ini, 60 tahun silam. Kutinggalkan rumah tanpa pamit pada ayah yang hari itu sakit payah, sementara ibu berkebaya kuyu cuma sempat mengusap keringat dan kasih semangat. Bersama dua teman bermain kami berlari bagai angin, menyongsong api dan mimpi. Sejentik api menyala di ubun-ubun kala usia belum 15 tahun.


 

Hari ini, 60 tahun silam. Sejumput mimpi tumbuh di hati, meski taruhannya mati. Tanpa bekal, tak kenal perhitungan akal. Cuma selembar celana dan baju, bersenjatakan bambu dan batu kami maju menyerbu. Jangankan sepatu dan gundu, atau buku tulis dan tas sekolah, tak kuingat lagi gadis manis tetangga sebelah rumah. Cuma dua kata berkobar membakar: "Merdeka! Allahuakbar!" -- tatkala Bung Tomo menjerit ke langit, melengking berteriak tinggi lewat corong Radio Be-Pri.*)


 

Hari ini, 60 tahun silam. Kuikatkan merah putih bertorehkan darah getih, dan iman di ujung bambu runcing Parakan **), setelah semalaman berzikir memantapkan takdir. Kucium punggung telapak tangan kanan Kiai Subeki, siap sudah kami berangkat mendekap kemungkinan bakal mati. Seribu wirid berkumandang ke langit, bulat sudah tekad di medan syahid.


 

Hari ini, 60 tahun silam. Masih kuingat ketika kuhadang konvoi Belanda di sebuah loji Kecamatan Bekonang, setelah seharian menyusun pertahanan di sebuah gua tepian Kali Dombang dan semak belukar Mojolaban. Masih terbayang betapa kami menyelinap mengendap-endap di tangga mushalla Kiai Zaini, tapi tak seorang pun kudapat handai taulan dan famili. Semalaman Desa Wonorejo lengang, penduduk dihalau jangan tanya lagi kapan pulang.


 

Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Tiada lagi pestol dan bedil, tinggallah kini kenangan dongkol dalam hidup yang kerdil. Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Mataku silau oleh gemerlap para jenderal tua berseragam berpeci, prajurit necis bersenjata lengkap rapi berbaris -- di layar televisi. Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Suaraku parau hati pun galau, tak kuasa lagi menagih janji.


 

Kini, hari ini, 60 tahun silam, tinggallah semua itu mimpi....


 

Jakarta, 17 Agustus - 5 Oktober 2005.



 

*) – Be-Pri (BPRI), Barisan Pemberontak Republik Indonesia, Surabaya, pimpinan Bung Tomo.

**) – Bambu rucing yang diberi doa oleh Kiai Subeki, pengasuh Pondok Pesantren Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sangat terkenal di kalangan para santri pejuang di awal revolusi.


Posted by BSH at 04:09:08 | Permanent Link | Comments (0) |