Kamis, May 04, 2006

SYAIR CINTA SEORANG LELAKI TUA DI USIA TUJUH PULUH LIMA

Buat TS


/ Budiman S. Hartoyo 

 

Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita berbincang tentang anak-anak nun jauh di seberang, tentang cucu-cucu yang lucu tak lagi terbilang. Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita bercanda tentang encok di pelosok tubuh, lalu saling memijat lembut melupakan cekcok seharian penuh


Hari-hari terasa syahdu ketika kudengar engkau senandungkan baris-baris surah Ar-Rahman tentang nikmat Allah tak berkesudahan. Hari-hari terasa syahdu ketika kuputar CD murattal ayat-ayat sakral qiraah Syaikh Sudais yang kadang tersedu dalam tangis tertahan


Cumbu rayu kita ialah ketika saling membangunkan di sepertiga malam, berbimbingan tangan mengambil air wudhu, bergegas shalat malam 11 rekaat. Syahwat asmara kita ialah ketika khusyuk berzikir bersama, sambil menahan kantuk menunggu azan subuh, berdecap-decap membaca wirid hingga penat


Rasanya waktu begitu akrab setiap kali alarm jam weker kumuh berdering nyaring mengingatkan waktu menjelang shalat. Rasanya hari-hari begitu singkat setiap kali kita menyobek lembaran kalender lusuh, tanggal-tanggal semakin dekat
 

Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi tetek-bengek duniawi menggelayuti pundak kita yang renta. Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi komputer, segelas susu, selaci surat-surat anak, juga buku atau renda

 

Rasanya sempurna sudah cinta kita, siap pulang kembali ke pangkuan arasy Kekasih Azza wa Jalla. Hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika ruh kita saling bercinta; hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika kita .....
  

Jakarta, Januari/Oktober 2005

 

 

Posted by BSH at 10:38:51 | Permanent Link | Comments (2) |