SEONGGOK DAGING MERAH
ada yang mengurus kantung mayat
ada yang menulis puisi
kedua-duanya mencatat
kedua-duanya mbrebes mili
(SMS Goenawan Mohamad
6-1-2005, subuh)
Angin letih berdesir, tak lagi mengalun
Laut dan pasir tak lagi mendesah
Dedaunan tiada lagi merimbun
raib tersapu gelombang bah
Seonggok daging anyir, membusuk dalam kantung
cakrawala senyap tiada lagi kicau burung
Akulah itu, seonggok daging merah
tercabik-cabik di Serambi Mekah
Akulah itu, bayi tak bernama
orok meregang tercerabut nyawa
terlambung gelombang pasang
amarah murka sang samudera
Dari celah kantung jenazah, lamat-lamat kudengar ratap tangis melolong di siang bolong, bersahutan bak lebah. Samar kabur kusaksikan air mata berurai, membanjir berderai. Bumi gunjang-ganjing, langit dan cuaca bermuram durja dalam mendung. Mentari gemetar dalam luka. Duka kota serata tanah, nestapa desa serata sawah
Dari Lancang Garam, gubuk mungil nun di Lhokseumawe, seonggok daging terpental, terlambung, tergulung gulung-gemulung, terseret terseok-seok, nyungsang-nyungsep di reranting pepohonan nan meranggas, terhempas terkapar di lantai dingin serambi Baiturrahman, sebelum fajar kadzib merangkai bayang-bayang
Letih, lesu
sepi, sunyi
senyap, sekarat
lapar, kiamat....
Tiada tarhim
tiada azan
kelam, legam....
Akulah itu, seonggok daging merah
tercabik-cabik di Serambi Mekah
Barangkali memang perlu lagu dan puisi
aku lebih butuh susu dan nasi
Kuidamkan dendang didong dan doa takziah
Tanah Rencong nyaris lenyap di peta sejarah
Kutunggu sudah para syuhada di ambang jannah
jangan lagi menangis, sambutlah karamah Allah
Akulah itu, seonggok daging merah
tercabik-cabik di Serambi Mekah
Ya, arhamarrahimin, irhamna...
Catatan:
1. mbrebes mili (Jawa), berurai air mata
2. fajar kadzib (Arab), bukan fajar sebenarnya
3. tarhim (Arab), mohon kasih sayang Allah
4. didong (Aceh), tari ungkapan kesedihan
5. takziah (Arab), melayat
6. syuhada (Arab), jamak kata syahid
7. jannah (Arab), sorga
8. karamah (Arab), kemuliaan
9. ya, arhamarrahimin, irhamna (Arab), wahai Sang Mahapencinta, cintailah kami
***


Komentar terakhir
Saya sangat mengharapkan komentar kawan-kawan.
Matur sembah nuwun. Pertama karena sud
Pu
Tak terbayang di b