Kamis, Desember 21, 2006

DI JAKARTA ENGKAU DI MANA AKU DI MANA

/ Budiman S. Hartoyo

 

pagi itu selepas hujan di lorong becek depan deretan gubuk beratap rumbia di bawah jembatan engkau bersijingkat mencariku di mana jejakku sejak kemarin dulu pagi itu sebelum sarapan aku mengangkat telapak tangan kananku di dahi menengadah menatap jendela ketiga tingkat ke duabelas gedung di belakang patung buruk itu lalu bingung menumpang lift lalu menduga barangkali sebentar lagi engkau turun menemuiku lalu mengerti siapa aku padahal aku belum pernah mendengar namamu engkau tak pernah menyimpan kartu namaku

 

di by pass aku melihatmu melintas ketika kukebut sepeda motorku tak lagi sempat mengoper persneling dan menginjak rem karena empat truk besar melintang depanku karena aku dikejar waktu karena aku merebut waktu di by pass berdegup jantungku ketika engkau melintas jalan depanku tak peduli siapa aku di tengah lalu lintas macet karena ada tabrakan di ujung sana di by pass aku tahu engkau melengos sambil memperbaiki dudukmu di mobil ketika aku menghampirimu menengadahkan tangan barangkali bisa mengenal namamu di by pass siapa engkau siapa aku di by pass siapa aku siapa engkau mana aku tahu engkau tak tahu

 

di pojok halte itu dekat tikungan tak jauh dari got hitam berbau engkau menunggu mengamati setiap penumpang bus yang bergegas meloncat dari pintu belakang dan engkau gugup menerka siapa gerangan menyelinap naik dari pintu depan di setiap terminal aku mencoba memburumu adakah engkau itu yang berjalan cepat berusaha menangkap bayang-bayangku meski aku tak melihatmu dan engkau tak tahu siapa aku

                      

                                                                                                                                                                                                               (1975)

Posted by BSH at 08:43:56 | Permanent Link | Comments (1) |

Sabtu, Desember 02, 2006

SEBENTAR LAGI YA ALLAH, SEBENTAR LAGI

/ Budiman S. Hartoyo

 

Gumpalan awan menggantung di langit
terjuntai
di ujung hari
Berjuta ratap mengaum, menggamit
menggapai-gapai
matahari

 

Angin pusu-berpusu
ganti-berganti
dari bukit-bukit batu
Berkibas di sela-sela jutaan kaki
tapak-menapak
bergegas
Jutaan tangan lambai-melambai
berebut di ambang pintu-Mu
Sedu-sedan terisak
dalam nafas
desah mendesah

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          perempuan keriput wajahmu kuyu
          dari mana kamu?

 

Ya, Rabbi
aku datang dari dusun, nun
di pelosok Tanah Jawi
Aku datang kepada-Mu, ya Allah
sendiri
Sibakkan tangan-tangan perkasa itu
ya Allah
Jangan lagi aku terpisah
dari Baitullah

 

Rinduku pada-Mu menyeretku
ke bawah duli Kaki-Mu
Larutkan daku dalam hangar-bingar itu
ya Allah
Cintaku pada-Mu melemparkanku
Bersimpuh di Rumah-Mu
aku mengais
aku menangis
aku mengemis

 

Sebentar lagi, ya Allah
sedikit lagi
kan kuelus dan kukecup
Batu Hitam-Mu
Sebentar lagi, ya Allah
sejengkal lagi
Sibakkan tangan-tangan itu
larutkan daku dalam hangar-bingar itu
sebentar lagi
sejengkal lagi

 

Gumpalan ratap menggapai kaki-Mu. Langit turun awan lepas terjuntai menggantung menghadang matahari. Angin ganti-berganti, pusu-berpusu dari bukit-bukit batu berkibas di sela-sela jutaan kaki yang bergegas menuju-Mu. Tangan-tangan lambai-melambai berebut salam di ambang Pintu-Mu. Sedu-sedan menyesak dalam nafas desah-mendesah….

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          matamu kering
          matamu kosong
          Perempuan keriput berwajah kuyu
          mulutmu kering
          mulutmu kosong

 

Sekali saja, ya Allah, sekali saja
ingin kukecup Batu Hitam-Mu
Tiada lagi kurindu pulang
Rinduku pada wajah-Mu
tiada kepalang

 

Wa adkhilnal jannata ma’al abrar
ya ‘Aziz
ya Ghaffar
ya Rabbal ‘alamin….

 

          Nenek kuyu bermulut kelu
          tidurlah lelap di Pangkuan-Ku
          Kusambut dan Kudekap engkau
          seperti janji-Ku padamu
          Jangan lagi tersedu
          jangan lagi tersedu

 

Segumpal ratap menggapai Kaki-Mu
segumpal jasad menggelepar di ambang Pintu-Mu

 

Ya, ayyatuhan nafsul muthma-innah
irji’i ila Rabbiki
radhiyyatan mardhiyyah
Fadkhuli fi ‘ibadi
wadkhuli jannati…

 

1992

Posted by BSH at 05:11:20 | Permanent Link | Comments (2) |