BUDIMAN S. HARTOYO dikenal sebagai salah seorang di antara sedikit (mantan) wartawan senior Majalah Berita Mingguan TEMPO yang sampai sekarang masih tetap konsisten sebagai jurnalis. Ia bahkan masih dipercaya sebagai penulis dan editor tamu Majalah Berita Mingguan TEMPO. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1938, BSH -- demikian sahabat-sahabatnya sering menyebut dan memanggilnya -- praktis selama seperempat abad menghabiskan usianya di TEMPO.
Dua kali menunaikan ibadah haji, yang pertama pada 1989, ketika terjadi demonstrasi jemaah haji Iran menentang dominasi Amerika Serikat di Arab Saudi. Demo, yang dilawan oleh pasukan keamanan Saudi dan menelan korban sekitar 400 jiwa itu, dimuat sebagai cover story. Ibadah haji kedua, 1990, sekalian meliput ibadah haji Presiden (ketika itu) Soeharto sekeluarga – yang juga diturunkan sebagai cover story. Dua laporan utama TEMPO itu merupakan laporan paling lengkap dibanding semua laporan media massa terbitan Indonesia saat itu.Ia mulai bekerja di majalah berita mingguan yang didirikan oleh budayawan dan intelektual Goenawan Mohamad dkk itu sejak 1972 (setahun setelah pertama kali TEMPO terbit) hingga majalah tersebut dibreidel pada 1995 oleh Menteri Penerangan (ketika itu) Harmoko atas perintah Presiden (ketika itu) Soeharto.
Sebelumnya, di Solo, Jawa Tengah, ia pernah bekerja di mingguan Surakarta (kemudian berganti nama menjadi Warta Minggu), mingguan Patria, dwipekan Genta, penulis lepas mingguan Adil (Solo), dan Masa Kini (Yogyakarta). Sejak 1966 ia bekerja sebagai redaktur RRI Surakarta dan menjadi koresponden beberapa media terbitan Jakarta, termasuk Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI). Bersama sejumlah seniman Solo, ia merintis berdirinya Dewan Kesenian Surakarta yang diresmikan oleh Prof. Dr. Umar Kayam.
Setelah TEMPO dibreidel, ia bekerja di majalah Amanah, harian Media Indonesia, majalah D&R (mula-mula Detektif&Romantika, kemudian berganti nama menjadi Demokrasi & Reformasi), majalah Gamma, kontributor Jurnal Pantau -- semuanya terbit di Jakarta. Dan sejak 2003 ia dipercaya sebagai Redaktur Eksekutif majalah dwipekan keislaman alKisah.
Di awal era reformasi, BSH sempat menjadi salah seorang deklarator organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (1995), kemudian mendirikan PWI-Reformasi (1998). Dalam Kongres Nasional I PWI-Reformasi di Bandungan, Salatiga, Jawa Tengah, 22-24 Maret 2000 ia terpilih sebagai ketua umum pertama, sedangkan dalam Kongres Nasional II, 22-24 Maret 2003 di Jambi, ia terpilih sebagai ketua Dewan Kehormatan Kode Etik. Dalam Kongres Luar Biasa di Yogyakarta, Desember 2005, nama PWI-Reformasi berubah menjadi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).
Dua buah feature-nya, The Ballads of Aryanti Sitepu dan Empat Hari Menyusup di "Sarang Teroris" yang dimuat di Jurnal Pantau, dinilai sebagai feature investigasi yang ditulis dengan gaya jurnalisme literair. Selain sebagai wartawan – yang selalu berusaha bersikap profesional, dan sangat concern dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta penulis jurnalisme literair yang langka -- BSH juga dikenal sebagai penyair.
1970-an, beberapa puisinya dimuat di beberapa majalah sastra terkemuka seperti Basis, Budaya (Yogyakarta), Gelanggang, Mimbar Indonesia, Sastra, Budaya Jaya, Horison (Jakarta). Kumpulan puisinya, Sebelum Tidur (1972), sudah empat kali dicetak ulang oleh Depertemen Pendidikan Nasional sebagai salah satu bacaan bagi anak-anak SLTA. Pada 2004, delapan puisinya tentang ibadah haji diterbitkan bersama beberapa puisi karya penyair Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi kecil Puisi-Puisi Haji. Pada 2005 ia melakukan re-writing buku otobiografi pengusaha nasional Basyiruddin Rachman Motik (BR Motik), dan mengedit otobiografi (mantan) Dubes RI untuk Manila, Marsekal Madya (Purn) Sri Bimo Ariotedjo.
Sampai 2006 ia masih tetap menulis, termasuk menulis puisi. Ia menjadi salah seorang redaktur untuk antologi puisi Maha Duka Aceh (Januari 2005), sementara dua buah puisinya, juga tentang tsunami Aceh, dimuat di majalah sastra bergengsi, Horison (Jakarta) edisi Januari 2006. Kini ia sedang mempersiapkan sebuah kumpulan puisi dan sebuah kumpulan karangan terserak. BSH mempunyai beberapa situs: http://bsh.blog.com/, http://budimanshartoyo.blog.com/, http://budimanshartoyo.blogspot.com/, http://budimanshartoyo.wordpress.com/, dan http://budimanshartoyo.multiply.com/
***
Komentar terakhir
Saya sangat mengharapkan komentar kawan-kawan.
Matur sembah nuwun. Pertama karena sud
Pu
Tak terbayang di b