Rabu, November 29, 2006

KUPANDANG LANGIT DARI BERANDA

/ Budiman S. Hartoyo

 

Baru jam 9 pagi, aku masih ingat, engkau berdiri di beranda itu. Gerimis belum sampai menderas menjadi hujan. Matahari masih sempat mengayam ribuan jari-jemari berwarna, membiaskan bianglala yang biru dan ungu, merah jingga di langit utara. Engkau mulai terhibur dari mimpi buruk yang mengusik tidurmu semalam. Dari sangkar kuning yang tergantung di pokok jambu, burung nuri yang mungil bercuit-cuit menyambut lagu kanak-kanak dari radio tetangga: “Kupandang langit penuh bintang …” *)

 

Adakah yang akan kau katakan menjelang parak siang, sebelum mimpi kembali datang lalu menjelma menjadi bayang-bayang? Engkau selalu terdiam pabila aku bertanya adakah hari akan hujan kalau aku jadi berangkat. Dan sekarang kita berpisah dan engkau merasa tak perlu lagi menunggu di beranda itu. Tapi memang ada yang hilang sekarang: cahaya matamu yang mengembun di balik kaca jendela.

 

Dari beranda rumah itu, malam itu sebelum berangkat aku masih ingat, rasanya ada kulihat engkau terbang, samar kabur di langit. Adakah yang tertinggal di kamar belakang ketika aku buru-buru pamit malam itu dan lupa menutup pintu, sementara engkau membetulkan selimutmu? Ketika itu radio sudah menutup siaran dan nuri tak lagi tergantung di halaman. Dan sekarang, di sini, aku bergumam sendirian: “Kupandang langit penuh bintang bercahaya...”

 

*) Dari sebuah lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. 

 

(1976)

Posted by BSH at 06:58:03 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, November 27, 2006

KUALALUMPUR, SUATU SENJA *)

/ Budiman S. Hartoyo

 

Sebentar aku pun terhenyak
ketika matahari mengusap hangat kulit wajahku
“Lepaskan jaket Enchik, di sini amat panas,” sambutmu
nyaris seperti suara keramahan di rumahku
(Kugenggam dendamku, kupendam rinduku
setelah lama luput dari cahaya bola matamu yang lembut
seperti matahari mimpi
menjelang tidurnya senja hari)


Orang-orang pun mendadak tersentak
ketika butiran air tiba-tiba terjatuh dari langit
yang mengawalku
“Inilah payung Tuan, mengapa tak jalan sama-sama?”
serumu sambil berlari-lari kecil di belakangku
Kusurukkan kepalaku
lalu kurangkul pinggangmu tanpa ragu
(Aku ingin melepas napas
di bawah lubang hidungmu)
Di sini seolah tiada lagi rindu
pada tanahair
Memang ada terasa damai di bawah payung kembangmu
(Mungkinkah aku tinggal di sini
barang sehari?)


Di ruang tunggu
tak siapa menunggu
tak siapa ditunggu
Kita duduk termangu
tak siapa kutunggu
tak siapa kau tunggu
Toh terasa akrab juga pandangmu
seperti kita pernah bersahabat sejak dulu
Sebentar-sebentar engkau senyum
mengapa aku tak tahu
Barangkali kebiasaan beramah-ramah saja
atau mungkin karena kau tangkap gelisahku
menunggu waktu
ketika tiap sebentar kukibaskan celana
yang basah oleh hujan barusan


Di kursi empuk sudut sana itu
seorang kakek duduk tertidur
nafasnya bebas teratur
(sehat sekali tampaknya)
Cambang dan janggutnya lebat
putih, rapih – memantulkan semangat
mengingatkan aku pada seorang dosen sejarah
di sebuah universitas swasta yang bangkrut
Bau harum asap tembakau
masih mengepul tipis dari pipa cangklong di tangan kirinya
Dan di tangan kanannya
terkulai sebuah buku saku:
Soekarno, A Political Biography


Tak ada suara di sini, kecuali
gumam kelompok di sudut itu
atau detak sepatumu bertumit tinggi
atau bisikmu
atau desah nafasmu
atau ketawa kecilmu
yang tertahan
Toh gelisah itu mengusik juga, pabila
pengeras suara itu mengganggu
-- bergema


Maka waktu pun sampai
aku usai, engkau usai
Dan aku pun melambai
dan engkau pun melambai....


(1974)

*) Judul asli: Di Ruang Tunggu Bandarudara Antarbangsa Subang, Kualalumpur, Suatu Senja

Posted by BSH at 06:16:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Minggu, November 26, 2006

Tentang BSH

BUDIMAN S. HARTOYO dikenal sebagai salah seorang di antara sedikit (mantan) wartawan senior Majalah Berita Mingguan TEMPO yang sampai sekarang masih tetap konsisten sebagai jurnalis. Ia bahkan masih dipercaya sebagai penulis dan editor tamu Majalah Berita Mingguan TEMPO. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 5 Desember 1938, BSH -- demikian sahabat-sahabatnya sering menyebut dan memanggilnya -- praktis selama seperempat abad menghabiskan usianya di TEMPO.

               Dua kali menunaikan ibadah haji, yang pertama pada 1989, ketika terjadi demonstrasi jemaah haji Iran menentang dominasi Amerika Serikat di Arab Saudi. Demo, yang dilawan oleh pasukan keamanan Saudi dan menelan korban sekitar 400 jiwa itu, dimuat sebagai cover story. Ibadah haji kedua, 1990, sekalian meliput ibadah haji Presiden (ketika itu) Soeharto sekeluarga – yang juga diturunkan sebagai cover story. Dua laporan utama TEMPO itu merupakan laporan paling lengkap dibanding semua laporan media massa terbitan Indonesia saat itu.Ia mulai bekerja di majalah berita mingguan yang didirikan oleh budayawan dan intelektual Goenawan Mohamad dkk itu sejak 1972 (setahun setelah pertama kali TEMPO terbit) hingga majalah tersebut dibreidel pada 1995 oleh Menteri Penerangan (ketika itu) Harmoko atas perintah Presiden (ketika itu) Soeharto.

               Sebelumnya, di Solo, Jawa Tengah, ia pernah bekerja di mingguan Surakarta (kemudian berganti nama menjadi Warta Minggu), mingguan Patria, dwipekan Genta, penulis lepas mingguan Adil (Solo), dan Masa Kini (Yogyakarta). Sejak 1966 ia bekerja sebagai redaktur RRI Surakarta dan menjadi koresponden beberapa media terbitan Jakarta, termasuk Kantor Berita Nasional Indonesia (KNI). Bersama sejumlah seniman Solo, ia merintis berdirinya Dewan Kesenian Surakarta yang diresmikan oleh Prof. Dr. Umar Kayam.

                Setelah TEMPO dibreidel, ia bekerja di majalah Amanah, harian Media Indonesia, majalah D&R (mula-mula Detektif&Romantika, kemudian berganti nama menjadi Demokrasi & Reformasi), majalah Gamma, kontributor Jurnal Pantau -- semuanya terbit di Jakarta. Dan sejak 2003 ia dipercaya sebagai Redaktur Eksekutif majalah dwipekan keislaman alKisah.

               Di awal era reformasi, BSH sempat menjadi salah seorang deklarator organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (1995), kemudian mendirikan PWI-Reformasi (1998). Dalam Kongres Nasional I PWI-Reformasi di Bandungan, Salatiga, Jawa Tengah, 22-24 Maret 2000 ia terpilih sebagai ketua umum pertama, sedangkan dalam Kongres Nasional II, 22-24 Maret 2003 di Jambi, ia terpilih sebagai ketua Dewan Kehormatan Kode Etik. Dalam Kongres Luar Biasa di Yogyakarta, Desember 2005, nama PWI-Reformasi berubah menjadi Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).

               Dua buah feature-nya, The Ballads of Aryanti Sitepu dan Empat Hari Menyusup di "Sarang Teroris" yang dimuat di Jurnal Pantau, dinilai sebagai feature investigasi yang ditulis dengan gaya jurnalisme literair. Selain sebagai wartawan – yang selalu berusaha bersikap profesional, dan sangat concern dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta penulis jurnalisme literair yang langka -- BSH juga dikenal sebagai penyair.

               1970-an, beberapa puisinya dimuat di beberapa majalah sastra terkemuka seperti Basis, Budaya (Yogyakarta), Gelanggang, Mimbar Indonesia, Sastra, Budaya Jaya, Horison (Jakarta). Kumpulan puisinya, Sebelum Tidur (1972), sudah empat kali dicetak ulang oleh Depertemen Pendidikan Nasional sebagai salah satu bacaan bagi anak-anak SLTA. Pada 2004, delapan puisinya tentang ibadah haji diterbitkan bersama beberapa puisi karya penyair Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi kecil Puisi-Puisi Haji. Pada 2005 ia melakukan re-writing buku otobiografi pengusaha nasional Basyiruddin Rachman Motik (BR Motik), dan mengedit otobiografi (mantan) Dubes RI untuk Manila, Marsekal Madya (Purn) Sri Bimo Ariotedjo.

               Sampai 2006 ia masih tetap menulis, termasuk menulis puisi. Ia menjadi salah seorang redaktur untuk antologi puisi Maha Duka Aceh (Januari 2005), sementara dua buah puisinya, juga tentang tsunami Aceh, dimuat di majalah sastra bergengsi, Horison (Jakarta) edisi Januari 2006. Kini ia sedang mempersiapkan sebuah kumpulan puisi dan sebuah kumpulan karangan terserak. BSH mempunyai beberapa situs: http://bsh.blog.com/, http://budimanshartoyo.blog.com/http://budimanshartoyo.blogspot.com/, http://budimanshartoyo.wordpress.com/, dan http://budimanshartoyo.multiply.com/

***

 

Posted by BSH at 05:33:21 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, November 25, 2006

PANTUN MASKIRBI

/ Budiman S. Hartoyo


Maskirbi, engkau selalu sendiri
menyusuri tubir pantai Calang
Menyibak butir pasir, menyapa matahari 
menyimak puisi, menggumam dendang


Maskirbi, engkau selalu sendiri
setiap kali merangkai syair di akhir hari
Di tengah galau dedah Serambi Mekah
menepis gulana gundah hati tak betah


Maskirbi, aku rindu bersilaturahmi
mendengar kabar debar jantungmu
Sejak lama aku ingin berjabat hati
dalam gumam puisi membakar sendu


Maskirbi, aku iri hati
mendengar engkau dapat dispensasi
Tiket langsung masuk al-A’raf sorgawi
anjung saf tertinggi jannah Ilahi


Maskirbi, aku mbrebes mili
dengar kabar engkau berlayar
menunggang gelombang tsunami
Lenyap dari pandang, mendekap gigir gelombang
senyap tanpa tangis, wirid zikir tak habis-habis


Jakarta, Januari/Oktober 2005


*) – Maskirbi, penyair Aceh yang hilang bersama seluruh keluarganya, ketika gelombang pasang tsunami melanda Calang, pantai Barat Aceh, 26 Desember 2004.


 

Posted by BSH at 20:23:24 | Permanent Link | Comments (2) |

JANGAN LAGI MENANGIS, CUT NYAK...

/ Budiman S. Hartoyo

 

Cut Nyak, cintaku. Jangan lagi meratap, janganlah lagi menangis. Usaplah air mata dan keringat yang meleleh lambat dengan ujung kebaya lusuhmu yang pucat. Janganlah lagi menangis.

 

Jangan kau kejar selendang kerudung yang berdenyar limbung terlambung oleh pasang gelombang tsunami. Janganlah terhenyak dalam langkah seribu menghindar dari bencana mengungkung bumi Sabang hingga Blangpidie. Sejenak saja Cut Nyak terisak, jangan lagi meratap sepanjang hari.

 

Buka kembali album kenangan meski lama terlupakan tentang Peureula dan Samudera Pasai, ketika Alauddin Syah dan Al-Malikus Shalih gagah bersipongang menjamu Marcopolo, Ibnu Batutah dan para nakhoda antarbenua. Simak kembali segudang kitab kuning berdebu manakala Syekh Singkili, As-Samatrani, dan Ar-Raniri khusyuk berzikir, sementara Hamzah Fansuri syahdu bersyair.

 

Dalam darah anak-anakmu deras membuncah ruh jihad fi sabilillah. Di sepanjang lekuk liku urat syaraf cucu dan cicitmu menggelegak mendidih gemuruh lava dari kawah Seulawah. Sejak Iskandar Muda, Teuku Umar, Tengku Chik di Tiro, Teuku Panglima Polim, Cut Nyak Dien, hingga Daud Beureueh, tak percuma kau tanamkan tonggak-tonggak sejarah -- dengan susah payah.

 

Puluhan ribu syuhada tersungkur gugur dalam perang sabi’ melawan kape Kompeni. Puluhan ribu syuhada lebur terkubur di bawah represi sang tiran bersepatu larsa bersenjata api berhati besi. Dan kini puluhan ribu syuhada hanyut lenyap ditelan gempa dan tsunami. Tapi, merekalah Cut Nyak, rabuk bagi sejarah perlawanan pantang menyerah; pupuk bagi persada Serambi Mekah.

 

Kini lihatlah Cut Nyak, fajar shadiq kembali menyemburat di sepanjang pantai. Anak cucumu yang mangkat terlelap tidur sebagai syuhada, tak lagi menangis sangsai. Maka bangkitlah Cut Nyak, bangkitlah kembali! Tiuplah serunai jihad, panggil segenap handai taulan membenahi meunasah yang melesak di kubangan tanah; tabuhlah genderang, undang segenap jiran membersihkan dayah di sebelah rumah. Singsingkan lengan baju, melangkah bersama membuka tanah, menyiangi sawah.

 

Cut Nyak, cintaku. Jangan lagi meratap, janganlah lagi menangis. Usaplah air mata dan keringat yang meleleh lambat dengan ujung kebaya kusutmu yang pucat. Jangan lagi kau kejar jilbabmu yang berdenyar oleh gempa dahsyat menggelegar, terlambung melayang oleh gelombang pasang. Janganlah lagi menangis; jangan Cut Nyak, jangan. Jangan lagi....

 

 

Jakarta, 8-16 Januari 2005.

Posted by BSH at 19:59:16 | Permanent Link | Comments (0) |