Sabtu, Desember 02, 2006

SEBENTAR LAGI YA ALLAH, SEBENTAR LAGI

/ Budiman S. Hartoyo

 

Gumpalan awan menggantung di langit
terjuntai
di ujung hari
Berjuta ratap mengaum, menggamit
menggapai-gapai
matahari

 

Angin pusu-berpusu
ganti-berganti
dari bukit-bukit batu
Berkibas di sela-sela jutaan kaki
tapak-menapak
bergegas
Jutaan tangan lambai-melambai
berebut di ambang pintu-Mu
Sedu-sedan terisak
dalam nafas
desah mendesah

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          perempuan keriput wajahmu kuyu
          dari mana kamu?

 

Ya, Rabbi
aku datang dari dusun, nun
di pelosok Tanah Jawi
Aku datang kepada-Mu, ya Allah
sendiri
Sibakkan tangan-tangan perkasa itu
ya Allah
Jangan lagi aku terpisah
dari Baitullah

 

Rinduku pada-Mu menyeretku
ke bawah duli Kaki-Mu
Larutkan daku dalam hangar-bingar itu
ya Allah
Cintaku pada-Mu melemparkanku
Bersimpuh di Rumah-Mu
aku mengais
aku menangis
aku mengemis

 

Sebentar lagi, ya Allah
sedikit lagi
kan kuelus dan kukecup
Batu Hitam-Mu
Sebentar lagi, ya Allah
sejengkal lagi
Sibakkan tangan-tangan itu
larutkan daku dalam hangar-bingar itu
sebentar lagi
sejengkal lagi

 

Gumpalan ratap menggapai kaki-Mu. Langit turun awan lepas terjuntai menggantung menghadang matahari. Angin ganti-berganti, pusu-berpusu dari bukit-bukit batu berkibas di sela-sela jutaan kaki yang bergegas menuju-Mu. Tangan-tangan lambai-melambai berebut salam di ambang Pintu-Mu. Sedu-sedan menyesak dalam nafas desah-mendesah….

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          matamu kering
          matamu kosong
          Perempuan keriput berwajah kuyu
          mulutmu kering
          mulutmu kosong

 

Sekali saja, ya Allah, sekali saja
ingin kukecup Batu Hitam-Mu
Tiada lagi kurindu pulang
Rinduku pada wajah-Mu
tiada kepalang

 

Wa adkhilnal jannata ma’al abrar
ya ‘Aziz
ya Ghaffar
ya Rabbal ‘alamin….

 

          Nenek kuyu bermulut kelu
          tidurlah lelap di Pangkuan-Ku
          Kusambut dan Kudekap engkau
          seperti janji-Ku padamu
          Jangan lagi tersedu
          jangan lagi tersedu

 

Segumpal ratap menggapai Kaki-Mu
segumpal jasad menggelepar di ambang Pintu-Mu

 

Ya, ayyatuhan nafsul muthma-innah
irji’i ila Rabbiki
radhiyyatan mardhiyyah
Fadkhuli fi ‘ibadi
wadkhuli jannati…

 

1992

Posted by BSH at 05:11:20 | Permanent Link | Comments (2) |
Komentar
1 - Bapak, saya baru malam ini "menemukan" blog Bapak.
Puisi-puisi Bapak indah dan menyentuh....

Oh ya, sekalian ngaturaken sugeng tanggap warsa, 5 Desember.
Semoga segala yang terbaik senantiasa terjadi pada Bapak, amien. (Comment this)

Ditulis oleh: Dewie Sekar at 2006/12/04 - 16:21:40
2 - Dewie cah ayu,
Matur sembah nuwun. Pertama karena sudah mampir ke situs web blog yang sederhana ini. Kedua karena saya merasa bahagia mendapat ucapan "tanggap warso". Iki mesti cah Solo utowo Ngayogyokarto. Tur mesti dari keluarga Jawa yang cukup "Jawa" mengingat mengerti istilah "tanggap warso" (ejaan yang bener dalam huruf Latin memang "tanggap warsa" - pakai huruf a, bukan o).
Silakan buka pula blog saya yang lain: http://budimanshartoyo.wordpress.com/.
Matur sembah nuwun. (Comment this)

Ditulis oleh: BSH at 2006/12/05 - 21:56:54