Jumat, Januari 18, 2008

AKU DATANG DARI TANAH HITAM

/ Budiman S. Hartoyo



Aku datang dari Tanah Hitam
kulitku hitam, cadarku hitam



Darahku menggelegak di lumpur Tanzania
hatiku bergolak di gurun Arabia
Hidupku menggelepar di Afrika Hitam
jiwaku bergetar di ambang Multazam



Aku menjelang dari jauh nun di seberang
menyurukkan nasibku yang terpuruk kelam
Kusibakkan cadarku hitam karna kepayang
melepas rindu mengecup Sang Batu Hitam



Aku datang dari Tanah Hitam
mataku legam, nasibku kelam



Kuseret jiwaku dalam tawaf di ujung malam
meniti butir tasbih hari-hariku sepi
Berdempet dalam saf-saf Masjidil Haram
menguak tabir rahasia janji Firdausi



Terseok kakiku lumpuh bersimpuh
menggenapkan cemasku dalam keluh
Akan sampaikah harapku dalam gumam riuh
akan terdengarkah doaku di galau rusuh?



(Perempuan hitam dari Tanah Hitam
berpesta mandi di Telaga Zamzam
Air mata bukan lagi miliknya
satu-satunya harta
seberkas cahaya
berbinar di matanya)



Aku datang dari Tanah Hitam
aku datang
Labbaikallahumma, labbaik
aku datang....



1992
 
Posted by BSH at 06:44:22 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Desember 11, 2007

SYAIR CINTA SEORANG LELAKI TUA PADA USIA TUJUH PULUH LIMA


Buat TS
 


/
Budiman S. Hartoyo
 


Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita berbincang tentang anak-anak nun jauh di seberang, tentang cucu-cucu yang lucu tak lagi terbilang. Hari-hari tak lagi terasa sepi ketika kita bercanda tentang encok di pelosok tubuh, lalu saling memijat lembut melupakan cekcok seharian penuh
 


Hari-hari terasa syahdu ketika kudengar engkau senandungkan baris-baris surah Ar-Rahman tentang nikmat Allah tak berkesudahan. Hari-hari terasa syahdu ketika kuputar CD murattal ayat-ayat sakral qiraah Syaikh Sudais yang kadang tersedu dalam tangis tertahan
 


Cumbu rayu kita ialah ketika saling membangunkan di sepertiga malam, berbimbingan tangan mengambil air wudhu, bergegas shalat malam 11 raka'at. Syahwat asmara kita ialah ketika khusyuk berzikir bersama, sambil menahan kantuk menunggu adzan Shubuh, berdecap-decap membaca wirid hingga penat
 


Rasanya waktu begitu akrab setiap kali alarm jam weker kumuh berdering nyaring mengingatkan waktu menjelang shalat. Rasanya hari-hari begitu singkat setiap kali kita menyobek lembaran kalender lusuh, tanggal-tanggal semakin dekat

 

Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi tetek-bengek duniawi menggelayuti pundak kita yang renta. Rasanya sempurna sudah percintaan kita, tiada lagi komputer, segelas susu, selaci surat-surat anak, juga buku atau renda
 


Rasanya sempurna sudah cinta kita, siap pulang kembali ke pangkuan arasy Kekasih Azza wa Jalla. Hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika ruh kita saling bercinta; hari-hari tak lagi terasa sepi, ketika kita .....
 


Jakarta, Januari/Oktober 2005.
Posted by BSH at 08:01:11 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Desember 06, 2007

HARI INI, 60 TAHUN SILAM

(Mengenang Sersan Major Moehammad Arwani dan Kopral Moeljadi Thohir, Lasykar Hizbullah, 1945).


 

Hari ini, 60 tahun silam. Kutinggalkan rumah tanpa pamit pada ayah yang hari itu sakit payah, sementara ibu berkebaya kuyu cuma sempat mengusap keringat dan kasih semangat. Bersama dua teman bermain kami berlari bagai angin, menyongsong api dan mimpi. Sejentik api menyala di ubun-ubun kala usia belum 15 tahun.


 

Hari ini, 60 tahun silam. Sejumput mimpi tumbuh di hati, meski taruhannya mati. Tanpa bekal, tak kenal perhitungan akal. Cuma selembar celana dan baju, bersenjatakan bambu dan batu kami maju menyerbu. Jangankan sepatu dan gundu, atau buku tulis dan tas sekolah, tak kuingat lagi gadis manis tetangga sebelah rumah. Cuma dua kata berkobar membakar: "Merdeka! Allahuakbar!" -- tatkala Bung Tomo menjerit ke langit, melengking berteriak tinggi lewat corong Radio Be-Pri.*)


 

Hari ini, 60 tahun silam. Kuikatkan merah putih bertorehkan darah getih, dan iman di ujung bambu runcing Parakan **), setelah semalaman berzikir memantapkan takdir. Kucium punggung telapak tangan kanan Kiai Subeki, siap sudah kami berangkat mendekap kemungkinan bakal mati. Seribu wirid berkumandang ke langit, bulat sudah tekad di medan syahid.


 

Hari ini, 60 tahun silam. Masih kuingat ketika kuhadang konvoi Belanda di sebuah loji Kecamatan Bekonang, setelah seharian menyusun pertahanan di sebuah gua tepian Kali Dombang dan semak belukar Mojolaban. Masih terbayang betapa kami menyelinap mengendap-endap di tangga mushalla Kiai Zaini, tapi tak seorang pun kudapat handai taulan dan famili. Semalaman Desa Wonorejo lengang, penduduk dihalau jangan tanya lagi kapan pulang.


 

Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Tiada lagi pestol dan bedil, tinggallah kini kenangan dongkol dalam hidup yang kerdil. Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Mataku silau oleh gemerlap para jenderal tua berseragam berpeci, prajurit necis bersenjata lengkap rapi berbaris -- di layar televisi. Kini, hari ini, setelah 60 tahun tinggal mimpi. Suaraku parau hati pun galau, tak kuasa lagi menagih janji.


 

Kini, hari ini, 60 tahun silam, tinggallah semua itu mimpi....


 

Jakarta, 17 Agustus - 5 Oktober 2005.



 

*) – Be-Pri (BPRI), Barisan Pemberontak Republik Indonesia, Surabaya, pimpinan Bung Tomo.

**) – Bambu rucing yang diberi doa oleh Kiai Subeki, pengasuh Pondok Pesantren Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sangat terkenal di kalangan para santri pejuang di awal revolusi.


Posted by BSH at 04:09:08 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, November 23, 2007

PANTUN MALU-MALU

Buat DB



Rumah besar dari kayu

malamnya hangat siangnya teduh

Berdua saja kita sejak dulu

bertahan nikmat dari galau gaduh



Berdua saja kita sejak dulu

larut dalam gending dan degung

Merenda usia di ujung waktu

melecut nasib di dinding jantung



Merenda usia di ujung waktu

dalam gelak jenaka menepis sendu

Jangan bikin duka sempat berlabuh

hapuslah raut wajah dari hangat peluh



Jangan bikin duka sempat berlabuh

meski tungku sering menunggu api

Jangan biarkan muka sempat tak acuh

meski dompet suka protes minta diisi



Jangan biarkan muka sempat tak acuh

kubelai rambutmu tergirai di bahu

Kenang cumbu rayu basi masa lalu

asmara kita bak cinta remaja malu-malu



Jakarta, 27-30 Januari 2005

Posted by BSH at 06:40:40 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Oktober 26, 2007

SEKUNTUM ZAHRAH DARI LAUT MERAH



/Budiman S. Hartoyo




Sekuntum zahrah dari pesisir Laut Merah

merekah di tubir selimut kiswah

Bayang telaga di bening ranum matamu

gelisah berpendar di balik cadar hitammu




Terkantuk duduk letih terkulai

bayang fajar kazib berkelebat

Gamang mengais butir tasbih putus berderai

risau sekejap, abaya nyaris tersingkap




Gerangan apa menggoda i’tikafmu dinihari

kelopak sembab dalam desah terisak

Gerangan siapa menggugat tafakurmu di ujung Isya

Ketika sayup bergaung Waidza sa-alaka ‘ibadi ‘annni...




Sekuntum zahrah terhenyak di ambang Bab al-Marwah

nafas terengah, wajah tengadah menggapai Ka’bah

Memungut tasbih berhamburan, Anti bergegas dalam sa’i

meneguk Zamzam penghabisan, tiada lagi sepi




Sekuntum zahrah dari pesisir Laut Merah

adakah kantuk tersisa saat azan menggugah Tanah Haram

Siapa menuntunmu tawaf di orbit Bait Allah

sebelum sempat kupandang bening wajahmu di fajar temaram




                                                                       (1992)


Posted by BSH at 10:22:57 | Permanent Link | Comments (0) |

DI RAUDHAH TAK PERNAH SEPI





/Budiman S. Hartoyo






Di Raudhah tak pernah sepi
beragam harap decap-berdecap
Berebut sujud, serambut tak beringsut
doa terisak, kelopak mata kejap-berkejap
               Di Raudhah tak pernah sepi






Di Raudhah kucium aroma kesturi
terbayang Tuan berkelebat lewat
Jubah merah tanpa terompah
enggan rasanya berpisah lagi
               Di Raudhah kucium aroma kesturi






Di Raudhah terbayang Tuan berseri
sesaat kuingat sepantun santun para santri
Anta syamsun, anta badrun
anta nurun, fauqa nuri…
               Di Raudhah terbayang Tuan berseri






Di Raudhah tak seorang berniat pulang
berhamburan salam, ya Marhaban
Merindukan jannah dalam sujud tersedu
mengenang senyum Tuan, siapa mampu
               Di Raudhah tak seorang berniat pulang







                                                                  (1992)

Posted by BSH at 10:09:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Juni 06, 2007

DI DEPAN-MU AKU SIRNA MENDEBU

/ Budiman S. Hartoyo

Di depan-Mu aku sirna mendebu
Engkaulah segalanya
kekekalan sempurna
Di mata-Mu semesta lenyap mengabu
Engkaulah yang abadi’
serba dan maha

Semua berasal dari pribadi-Mu
sumber segala apa pun
Semua kembali  ke dalam ruh-Mu
inti hakikat maha anggun

Kediamanku adalah kediaman-Mu
Itulah puisi
Keasyikan yang lena terlupa
Lelap dalam kantuk nikmat

Di depan-Mu aku sirna mendebu
Berlaksa mimpi
berlaksa puisi
Diam bertabur hikmah

Di depan-Mu aku sirna mendebu
Tiada apa pun
tiada kata
tiada suara
tiada rahasia

Engkau sendiri
aku sendiri

(1969)

Posted by BSH at 06:16:04 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Desember 21, 2006

DI JAKARTA ENGKAU DI MANA AKU DI MANA

/ Budiman S. Hartoyo

 

pagi itu selepas hujan di lorong becek depan deretan gubuk beratap rumbia di bawah jembatan engkau bersijingkat mencariku di mana jejakku sejak kemarin dulu pagi itu sebelum sarapan aku mengangkat telapak tangan kananku di dahi menengadah menatap jendela ketiga tingkat ke duabelas gedung di belakang patung buruk itu lalu bingung menumpang lift lalu menduga barangkali sebentar lagi engkau turun menemuiku lalu mengerti siapa aku padahal aku belum pernah mendengar namamu engkau tak pernah menyimpan kartu namaku

 

di by pass aku melihatmu melintas ketika kukebut sepeda motorku tak lagi sempat mengoper persneling dan menginjak rem karena empat truk besar melintang depanku karena aku dikejar waktu karena aku merebut waktu di by pass berdegup jantungku ketika engkau melintas jalan depanku tak peduli siapa aku di tengah lalu lintas macet karena ada tabrakan di ujung sana di by pass aku tahu engkau melengos sambil memperbaiki dudukmu di mobil ketika aku menghampirimu menengadahkan tangan barangkali bisa mengenal namamu di by pass siapa engkau siapa aku di by pass siapa aku siapa engkau mana aku tahu engkau tak tahu

 

di pojok halte itu dekat tikungan tak jauh dari got hitam berbau engkau menunggu mengamati setiap penumpang bus yang bergegas meloncat dari pintu belakang dan engkau gugup menerka siapa gerangan menyelinap naik dari pintu depan di setiap terminal aku mencoba memburumu adakah engkau itu yang berjalan cepat berusaha menangkap bayang-bayangku meski aku tak melihatmu dan engkau tak tahu siapa aku

                      

                                                                                                                                                                                                               (1975)

Posted by BSH at 08:43:56 | Permanent Link | Comments (1) |

Sabtu, Desember 02, 2006

SEBENTAR LAGI YA ALLAH, SEBENTAR LAGI

/ Budiman S. Hartoyo

 

Gumpalan awan menggantung di langit
terjuntai
di ujung hari
Berjuta ratap mengaum, menggamit
menggapai-gapai
matahari

 

Angin pusu-berpusu
ganti-berganti
dari bukit-bukit batu
Berkibas di sela-sela jutaan kaki
tapak-menapak
bergegas
Jutaan tangan lambai-melambai
berebut di ambang pintu-Mu
Sedu-sedan terisak
dalam nafas
desah mendesah

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          perempuan keriput wajahmu kuyu
          dari mana kamu?

 

Ya, Rabbi
aku datang dari dusun, nun
di pelosok Tanah Jawi
Aku datang kepada-Mu, ya Allah
sendiri
Sibakkan tangan-tangan perkasa itu
ya Allah
Jangan lagi aku terpisah
dari Baitullah

 

Rinduku pada-Mu menyeretku
ke bawah duli Kaki-Mu
Larutkan daku dalam hangar-bingar itu
ya Allah
Cintaku pada-Mu melemparkanku
Bersimpuh di Rumah-Mu
aku mengais
aku menangis
aku mengemis

 

Sebentar lagi, ya Allah
sedikit lagi
kan kuelus dan kukecup
Batu Hitam-Mu
Sebentar lagi, ya Allah
sejengkal lagi
Sibakkan tangan-tangan itu
larutkan daku dalam hangar-bingar itu
sebentar lagi
sejengkal lagi

 

Gumpalan ratap menggapai kaki-Mu. Langit turun awan lepas terjuntai menggantung menghadang matahari. Angin ganti-berganti, pusu-berpusu dari bukit-bukit batu berkibas di sela-sela jutaan kaki yang bergegas menuju-Mu. Tangan-tangan lambai-melambai berebut salam di ambang Pintu-Mu. Sedu-sedan menyesak dalam nafas desah-mendesah….

 

          Nenek lusuh berkain lusuh
          matamu kering
          matamu kosong
          Perempuan keriput berwajah kuyu
          mulutmu kering
          mulutmu kosong

 

Sekali saja, ya Allah, sekali saja
ingin kukecup Batu Hitam-Mu
Tiada lagi kurindu pulang
Rinduku pada wajah-Mu
tiada kepalang

 

Wa adkhilnal jannata ma’al abrar
ya ‘Aziz
ya Ghaffar
ya Rabbal ‘alamin….

 

          Nenek kuyu bermulut kelu
          tidurlah lelap di Pangkuan-Ku
          Kusambut dan Kudekap engkau
          seperti janji-Ku padamu
          Jangan lagi tersedu
          jangan lagi tersedu

 

Segumpal ratap menggapai Kaki-Mu
segumpal jasad menggelepar di ambang Pintu-Mu

 

Ya, ayyatuhan nafsul muthma-innah
irji’i ila Rabbiki
radhiyyatan mardhiyyah
Fadkhuli fi ‘ibadi
wadkhuli jannati…

 

1992

Posted by BSH at 05:11:20 | Permanent Link | Comments (2) |

Rabu, November 29, 2006

KUPANDANG LANGIT DARI BERANDA

/ Budiman S. Hartoyo

 

Baru jam 9 pagi, aku masih ingat, engkau berdiri di beranda itu. Gerimis belum sampai menderas menjadi hujan. Matahari masih sempat mengayam ribuan jari-jemari berwarna, membiaskan bianglala yang biru dan ungu, merah jingga di langit utara. Engkau mulai terhibur dari mimpi buruk yang mengusik tidurmu semalam. Dari sangkar kuning yang tergantung di pokok jambu, burung nuri yang mungil bercuit-cuit menyambut lagu kanak-kanak dari radio tetangga: “Kupandang langit penuh bintang …” *)

 

Adakah yang akan kau katakan menjelang parak siang, sebelum mimpi kembali datang lalu menjelma menjadi bayang-bayang? Engkau selalu terdiam pabila aku bertanya adakah hari akan hujan kalau aku jadi berangkat. Dan sekarang kita berpisah dan engkau merasa tak perlu lagi menunggu di beranda itu. Tapi memang ada yang hilang sekarang: cahaya matamu yang mengembun di balik kaca jendela.

 

Dari beranda rumah itu, malam itu sebelum berangkat aku masih ingat, rasanya ada kulihat engkau terbang, samar kabur di langit. Adakah yang tertinggal di kamar belakang ketika aku buru-buru pamit malam itu dan lupa menutup pintu, sementara engkau membetulkan selimutmu? Ketika itu radio sudah menutup siaran dan nuri tak lagi tergantung di halaman. Dan sekarang, di sini, aku bergumam sendirian: “Kupandang langit penuh bintang bercahaya...”

 

*) Dari sebuah lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. 

 

(1976)

Posted by BSH at 06:58:03 | Permanent Link | Comments (0) |